JAKARTA - Dalam perekonomian yang terus berusaha bangkit di tengah dinamika global, Bank Nagari kembali menegaskan komitmennya terhadap pemberdayaan ekonomi lokal melalui penyediaan kredit kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kebijakan yang dijalankan bank pembangunan daerah asal Sumatera Barat ini tidak hanya mencerminkan keberpihakan terhadap pelaku UMKM, tetapi juga menunjukkan peran strategis lembaga keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi riil. Tahun 2025 menjadi tonggak penting ketika Bank Nagari mencatat angka penyaluran kredit kepada UMKM yang signifikan serta meraih rasio tertinggi di antara Bank Pembangunan Daerah (BPD) lain di Indonesia.
Pencapaian Kredit UMKM: Angka, Rasio, dan Signifikansi
Sepanjang tahun 2025, Bank Nagari berhasil menyalurkan kredit atau pembiayaan kepada pelaku UMKM sebesar Rp6,254 triliun. Angka ini merupakan bagian dari total kredit UMKM yang ada di Sumatera Barat, yang mencapai Rp30,002 triliun untuk semua bank di wilayah itu. Dengan perolehan tersebut, rasio kredit UMKM Bank Nagari mencapai 20,85 persen, menjadikannya yang tertinggi di antara semua BPD provinsi di Indonesia.
Direktur Utama Bank Nagari, Gusti Candra, menyampaikan rasa syukur dan kepuasan atas pencapaian ini. Ia mengatakan, “Alhamdulillah, Bank Nagari memiliki rasio 20,85 persen. Paling tinggi diantara Bank Pembangunan Daerah (BPD) provinsi lain,” ketika memaparkan kinerja keuangan institusi tersebut di Padang pada awal Februari 2026.
Keberhasilan ini bukan sekadar angka statistik, tetapi juga mencerminkan bahwa strategi Bank Nagari fokus pada pemberdayaan UMKM—segmen yang selama ini dikenal sebagai tulang punggung ekonomi lokal dan nasional.
Peran Program Pemerintah: KUR dan Kredit Lainnya
Selain penyaluran kredit produktif, Bank Nagari juga berperan dalam mendukung program pembiayaan berbasis kebijakan pemerintah, salah satunya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada 2025, penyaluran KUR Bank Nagari mencapai Rp1,38 triliun, yang diberikan kepada 7.506 debitur. Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan KUR konvensional sebesar Rp1,1 triliun kepada 5.861 debitur, sementara sisanya adalah KUR syariah Rp265,82 miliar kepada 1.045 debitur.
Model pembiayaan seperti KUR merupakan instrumen penting untuk menjembatani kebutuhan modal kerja pelaku UMKM yang sering kali mengalami keterbatasan akses permodalan formal, terutama di daerah. Dengan layanan ini, Bank Nagari tidak hanya menjadi pemberi kredit, tetapi juga berperan sebagai mitra pengembangan usaha kecil yang berkelanjutan.
Selain KUR, Bank Nagari juga tercatat menyalurkan kredit untuk kebutuhan lain, termasuk program KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) dan produk internal seperti Simamak (Solusi Mengatasi Masalah Keuangan). Pada 2025, penyaluran KPR FLPP mencapai Rp85,77 miliar untuk 548 unit rumah, sedangkan produk Simamak menyalurkan lebih dari Rp10,7 miliar kepada pelanggannya.
Bank Nagari: Pilar Kemajuan UMKM Lokal
Kredit UMKM yang tersalurkan oleh Bank Nagari bukan hanya sekadar pencapaian finansial semata, tetapi menjadi elemen penting dalam memacu perkembangan usaha kecil menuju go digital dan naik kelas. Dalam perspektif perekonomian daerah, UMKM memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja, penciptaan nilai tambah produk lokal, dan pengurangan kemiskinan.
Dalam sambutannya, Gusti Candra menekankan bahwa lembaga yang dipimpinnya ingin terus memperluas dampak positif terhadap pelaku UMKM. Ia menyatakan bahwa Bank Nagari akan terus konsisten memberikan perhatian dan kepedulian kepada pelaku UMKM, agar mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan bertransformasi seiring pergeseran ekonomi dan kebutuhan pasar.
Upaya tersebut mencerminkan pemahaman bahwa UMKM bukan sekadar penerima kredit, tetapi merupakan mitra strategis dalam pembangunan ekonomi jangka panjang. Apalagi di era digital, UMKM yang mampu menyesuaikan diri dengan inovasi teknologi cenderung memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh serta menciptakan lapangan kerja baru.
Tantangan, Harapan, dan Arah Ke Depan
Walaupun pencapaian kredit UMKM oleh Bank Nagari patut diapresiasi, tantangan tetap ada. Industri UMKM masih menghadapi berbagai kendala struktural seperti keterbatasan kapasitas produksi, akses pasar yang belum optimal, serta literasi keuangan yang belum merata di seluruh daerah. Bank Nagari, seperti lembaga keuangan pembangunan lainnya, dihadapkan pada tugas untuk terus mengembangkan produk dan layanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan riil UMKM.
Namun ada harapan kuat bahwa dengan komitmen yang konsisten, dukungan kebijakan pemerintah, serta kolaborasi lintas pihak, UMKM dapat terus memperoleh akses permodalan yang lebih adil dan tepat sasaran. Bank Nagari, lewat strategi dan kontribusinya, telah mengambil langkah nyata dalam peta pemberdayaan ekonomi lokal.
Secara ringkas, komitmen Bank Nagari untuk memprioritaskan kredit UMKM membawa dampak positif yang luas: dari peningkatan rasio kredit produktif, dukungan terhadap program pemerintah seperti KUR dan KPR FLPP, hingga dorongan untuk percepatan digitalisasi UMKM. Pencapaian ini bukan hanya statistik, tetapi langkah konkret dalam memperkuat peran sektor UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.