JAKARTA - Kebutuhan energi di sektor industri Indonesia terus meningkat seiring ekspansi fasilitas produksi dan digitalisasi.
Efisiensi energi menjadi kunci penting untuk menjaga daya saing sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang.
Tarif listrik industri cukup tinggi, di mana pelanggan industri besar dikenai tarif sekitar Rp 996,74 per kWh. Sementara industri menengah harus membayar tarif sekitar Rp 1.114,74 per kWh.
Biaya listrik ini bisa mencapai miliaran rupiah per tahun mengingat aktivitas operasional yang padat, terutama pada siang hari. Sementara itu, produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terjadi bersamaan dengan puncak konsumsi industri.
PLTS menawarkan solusi strategis untuk menekan biaya listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik nasional. Namun, investasi awal yang tinggi sering menjadi kendala perusahaan dalam mengadopsi teknologi ini.
Sebagai gambaran, pemasangan PLTS rumahan berkapasitas 1.150 Wp memerlukan biaya sekitar Rp 25 juta atau Rp 21,7 juta per kWp. Jika diterapkan pada skala industri 1 MWp, estimasi investasi bisa melebihi Rp 20 miliar.
Biaya investasi yang besar ini sering membuat perusahaan menunda penggunaan PLTS meski manfaat jangka panjangnya sangat signifikan. Oleh karena itu, solusi pembiayaan menjadi sangat krusial agar industri dapat segera beralih ke energi surya.
Skema Zero Investment dan Sistem PLTS Fleksibel untuk Industri
Sun Energy menghadirkan skema pembiayaan tanpa modal awal alias Zero Investment. Melalui skema ini, seluruh biaya investasi mulai dari pengadaan, instalasi, perizinan hingga pemeliharaan ditanggung oleh pengembang proyek PLTS.
Perusahaan pelanggan hanya perlu membayar biaya layanan bulanan sesuai energi yang dihasilkan. Tarif yang dikenakan pun lebih rendah dibandingkan listrik konvensional sehingga berpotensi menghemat biaya hingga 30-40 persen per tahun.
Keuntungan lain dari skema Zero Investment adalah perusahaan tidak perlu mengeluarkan belanja modal (Capex). Ini tentu sangat membantu neraca keuangan dan memudahkan perencanaan biaya operasional (Opex) yang lebih terprediksi.
Sistem PLTS juga didesain sesuai kebutuhan operasional industri, baik dari sisi lokasi maupun pola konsumsi energi. Tersedia tiga konfigurasi sistem PLTS yang dapat dipilih sesuai kondisi industri.
Pertama, PLTS On-Grid yang terhubung langsung dengan jaringan listrik nasional cocok untuk industri di kawasan dengan pasokan listrik stabil. Kedua, PLTS Off-Grid yang beroperasi mandiri tanpa jaringan nasional sangat ideal untuk industri yang masih mengandalkan genset diesel.
PLTS Off-Grid juga bisa dipadukan dengan baterai penyimpanan untuk memastikan suplai listrik 24 jam nonstop. Ketiga, PLTS Hybrid menggabungkan energi surya, jaringan listrik, dan baterai untuk menjaga keandalan pasokan listrik dalam berbagai kondisi cuaca.
Pendekatan ini memungkinkan industri menggunakan energi surya tanpa harus mengubah sistem kelistrikan yang sudah ada. Fleksibilitas ini mempercepat transisi energi yang ramah lingkungan sekaligus mengurangi risiko gangguan operasional.
Kontribusi PLTS Terhadap Efisiensi Energi dan Dekarbonisasi Nasional
Selain aspek ekonomi, penggunaan PLTS sejalan dengan agenda transisi energi nasional. Energi surya membantu menurunkan beban listrik pada jam puncak sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.
Biaya pembangkitan listrik tenaga surya skala utilitas telah turun sekitar 90 persen sejak 2010. Penurunan ini menjadikan energi surya sebagai salah satu sumber energi paling ekonomis dan bersih di dunia saat ini.
Indonesia juga membutuhkan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 75 GW hingga 2040. Tenaga surya diproyeksikan menjadi kontributor utama dalam target tersebut sebagai bagian dari upaya pencapaian net zero emission pada 2050.
Dengan dukungan skema Zero Investment dan berbagai konfigurasi sistem PLTS, Sun Energy memperkuat posisinya sebagai mitra strategis sektor industri. Mereka membantu sektor manufaktur, logistik, dan kawasan industri meningkatkan efisiensi energi sekaligus mempercepat operasional rendah karbon.
Pengalaman implementasi di ratusan fasilitas industri menunjukkan bahwa adopsi energi surya dapat dilakukan tanpa beban investasi awal. Hal ini membuka peluang luas bagi perusahaan yang ingin menekan biaya sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi karbon.
Kemudahan akses PLTS tanpa modal awal menjadi pendorong utama transformasi energi di sektor industri Indonesia. Langkah ini sejalan dengan upaya global dalam mengatasi perubahan iklim dan meningkatkan daya saing bisnis secara berkelanjutan.