Bapanas

Kepala Bapanas Buka Peluang Ekspor Beras Setelah Serapan Naik Signifikan

Kepala Bapanas Buka Peluang Ekspor Beras Setelah Serapan Naik Signifikan
Kepala Bapanas Buka Peluang Ekspor Beras Setelah Serapan Naik Signifikan

JAKARTA - Memasuki awal tahun 2026, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, mengumumkan capaian luar biasa dalam serapan beras pemerintah. 

Pada periode Januari 2026, realisasi serapan cadangan beras pemerintah (CBP) dari produksi dalam negeri mencapai 112 ribu ton setara beras. Angka ini menandai peningkatan lebih dari 700 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni hanya sekitar 14 ribu ton.

Lonjakan signifikan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam optimalisasi penyerapan hasil produksi pangan nasional, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas akses pasar ekspor beras. 

Hal ini menjadi sinyal positif di tengah dinamika ketahanan pangan global dan domestik yang masih penuh tantangan.

Menteri Amran menegaskan bahwa pemerintah di bawah komando Presiden Prabowo Subianto terus melanjutkan kebijakan yang berpihak pada petani lokal melalui penguatan stok CBP yang dikelola Perum Bulog. 

“Serapan bulan ini meningkat pesat, dan kami sangat berterima kasih kepada Dirut Bulog dan seluruh Direksi atas kerja kerasnya,” ujarnya dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI.

Strategi Optimalisasi Penyerapan Beras Untuk Ketahanan Pangan

Serapan beras yang melonjak menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Salah satu langkah strategis adalah penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang ditargetkan mencapai 4 juta ton pada tahun 2026. Untuk memastikan target tersebut tercapai, pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Kepala Bapanas, Menteri Keuangan, dan Kepala Badan Pengatur BUMN yang menetapkan penugasan pengadaan CBP.

SKB ini memberi mandat kepada BUMN pangan, terutama Perum Bulog, untuk membeli hasil produksi petani dalam negeri secara maksimal. Kebijakan ini tidak hanya menjaga stok pangan tetap aman tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dengan memastikan hasil panennya terserap pasar secara optimal.

Dalam pelaksanaannya, Bulog mengerahkan tim jemput pangan yang bekerja sama erat dengan TNI, Polri, serta petugas penyuluh pertanian untuk memastikan serapan gabah kering panen (GKP) dari berbagai kualitas memenuhi target. Hingga awal Februari 2026, realisasi pengadaan telah mencapai lebih dari 112 ribu ton setara beras, menunjukkan pencapaian yang sangat menggembirakan dan menjadi modal kuat ketahanan pangan nasional.

Proyeksi Produksi Beras Nasional yang Menguat

Lonjakan serapan beras ini berjalan beriringan dengan proyeksi produksi nasional yang menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa produksi beras pada kuartal pertama tahun 2026 akan mencapai 10,16 juta ton, meningkat 1,39 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut menjadi tanda bahwa upaya peningkatan produksi yang dilakukan pemerintah, seperti optimalisasi lahan dan dukungan teknis kepada petani, mulai membuahkan hasil. 

Peningkatan produksi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi domestik sekaligus menyisakan surplus yang memungkinkan Indonesia memasuki pasar ekspor.

Menteri Amran menyatakan optimisme bahwa dengan laju serapan yang stabil dan produksi yang kuat, Indonesia bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bisa menjadi pemasok beras ke negara-negara yang membutuhkan. “Kalau tren ini berlanjut, mudah-mudahan kita bisa suplai negara sahabat,” katanya.

Komitmen Bulog Dalam Mendukung Petani Nasional

Sebagai pelaksana utama pengadaan CBP, Perum Bulog menunjukkan komitmen tinggi dalam mendukung kebijakan pemerintah. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa sinergi antara Bulog dengan TNI, Polri, dan petugas penyuluh pertanian sangat penting dalam menjamin serapan gabah kering panen.

Bulog tidak hanya fokus pada kuantitas serapan, tetapi juga menjaga kualitas gabah yang masuk agar cadangan beras pemerintah tetap terjaga mutu dan layak distribusikan saat diperlukan. Hal ini penting untuk menjamin stabilitas harga beras di pasar dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Upaya ini merupakan bukti nyata bahwa pemerintah hadir langsung mendukung petani, menjaga keseimbangan pasar, dan memberikan jaminan ketersediaan pangan dalam situasi krisis maupun kondisi normal. “Kami optimalkan tim jemput pangan untuk memastikan serapan berjalan maksimal,” ujar Rizal.

Peluang Ekspor Beras Membuka Pasar Baru

Dengan lonjakan serapan dan produksi yang semakin kuat, Indonesia membuka peluang baru untuk menembus pasar ekspor beras internasional. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang ingin memperluas jaringan perdagangan dan meningkatkan devisa negara dari sektor pertanian.

Potensi ekspor ini sangat penting mengingat permintaan beras di pasar global terus meningkat, terutama dari negara-negara yang mengalami ketidakstabilan produksi. Dengan stok dan produksi yang memadai, Indonesia siap berkontribusi sebagai pemasok pangan yang andal dan kompetitif.

Menteri Amran menegaskan bahwa peluang ekspor ini tidak hanya menguntungkan pemerintah, tetapi juga memberikan dampak positif langsung bagi petani dan pelaku usaha di sektor pertanian, yang pada akhirnya mendukung pembangunan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index