JAKARTA - Kinerja perusahaan di sektor pariwisata dan properti kembali menunjukkan pemulihan kuat setelah beberapa tahun menghadapi tekanan.
Hal ini terlihat dari laporan keuangan sejumlah emiten yang berhasil mencatat pertumbuhan signifikan, salah satunya PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA).
Perusahaan yang dikenal sebagai pengelola resor mewah di Bali ini berhasil membukukan peningkatan laba yang sangat tajam sepanjang tahun buku 2025. Pencapaian tersebut mencerminkan kinerja operasional yang semakin solid seiring dengan meningkatnya aktivitas sektor pariwisata.
Emiten pengelola resor Alila Villas Uluwatu yang juga terafiliasi dengan Happy Hapsoro, yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA), mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan secara signifikan pada 2025.
Berdasarkan laporan keuangan akhir Desember 2025, BUVA yang dimiliki oleh Happy Hapsoro atau suami Ketua DPR Puan Maharani tersebut meraup laba bersih tahun berjalan sebesar Rp99,19 miliar sepanjang tahun lalu.
Perolehan ini meroket 1.073,12% year on year (YoY) atau tumbuh 11,7 kali lipat dibandingkan dengan laba tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp8,45 miliar.
Pendapatan BUVA Ikut Tumbuh Sepanjang 2025
Kenaikan laba bersih BUVA tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan didukung oleh peningkatan pendapatan perusahaan selama tahun berjalan. Pendapatan yang meningkat menunjukkan bahwa aktivitas bisnis perusahaan mengalami perkembangan positif.
Adapun lonjakan laba bersih sejalan dengan kinerja pendapatan BUVA yang tumbuh 5,72% secara tahunan menjadi Rp375,58 miliar dari sebelumnya Rp355,25 miliar.
Secara rinci, pendapatan dari segmen hotel menjadi kontributor terbesar dengan raihan Rp363,69 miliar sepanjang tahun lalu.
Kinerja segmen hotel yang kuat menjadi faktor utama dalam menopang pertumbuhan pendapatan perusahaan. Hal ini mencerminkan bahwa tingkat hunian dan aktivitas bisnis perhotelan yang dikelola BUVA mengalami peningkatan sepanjang tahun 2025.
Sektor pariwisata yang terus pulih turut memberikan dampak positif terhadap performa operasional perusahaan.
Beban Usaha Naik, Laba Kotor Tetap Tumbuh
Di tengah peningkatan pendapatan, BUVA juga mencatat adanya kenaikan beban operasional. Namun demikian, kenaikan tersebut masih dapat diimbangi oleh pertumbuhan pendapatan yang cukup stabil.
Di sisi lain, perseroan mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 7,74% YoY menjadi Rp112,55 miliar.
Meski beban pokok naik lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan, BUVA tetap mengantongi laba kotor senilai Rp263,02 miliar, atau tumbuh 4,88% dibandingkan 2024 sebesar Rp250,78 miliar.
Pertumbuhan laba kotor ini menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu menjaga efisiensi operasional meskipun biaya produksi mengalami peningkatan.
Keberhasilan menjaga margin laba juga menjadi salah satu faktor penting yang mendukung lonjakan laba bersih perusahaan.
Laba Per Saham BUVA Ikut Melonjak
Kinerja positif BUVA juga tercermin dari peningkatan nilai laba per saham atau earnings per share (EPS). Indikator ini sering digunakan oleh investor untuk melihat seberapa besar keuntungan yang dihasilkan perusahaan bagi setiap lembar saham yang beredar.
Pencapaian laba bersih yang fantastis ini juga tercermin pada nilai laba per saham (earnings per share/EPS) perseroan.
Laba per saham BUVA melonjak dari Rp0,41 menjadi Rp4,03 per lembar saham pada akhir Desember 2025.
Lonjakan EPS ini mencerminkan peningkatan profitabilitas perusahaan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Bagi investor, pertumbuhan laba per saham menjadi sinyal positif karena menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
Neraca Keuangan BUVA Menguat
Selain dari sisi laba dan pendapatan, kondisi keuangan BUVA juga mengalami perbaikan yang terlihat dari struktur neraca perusahaan.
Sementara itu, struktur neraca perseroan turut menunjukkan perbaikan secara signifikan, terutama pada pos liabilitas.
Kewajiban atau utang BUVA terpantau turun sebesar 27,45% secara tahunan menjadi Rp556,12 miliar.
Penurunan utang ini menunjukkan upaya perusahaan dalam memperbaiki struktur keuangan dan mengurangi beban kewajiban.
Pada saat bersamaan, ekuitas perseroan melesat 51,91% YoY menjadi Rp2,05 triliun dari sebelumnya Rp1,35 triliun.
Kenaikan ekuitas tersebut menjadi indikasi bahwa posisi keuangan perusahaan semakin kuat dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, total aset BUVA naik 23,19% YoY, menembus angka Rp2,6 triliun pada akhir tahun buku 2025.
Posisi kas dan setara kas emiten properti ini juga tetap terjaga kuat di angka Rp285,25 miliar, atau mencatat pertumbuhan sebesar 14,60% secara tahunan.
Dari lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BUVA saat ini berada di level Rp1.075 per saham pada Rabu, 11 Maret 2026 hingga pukul 10.00 WIB.
Harga itu mencerminkan koreksi sebesar 22,66% sepanjang tahun berjalan (YtD).
Kendati demikian, kinerja fundamental perusahaan yang menunjukkan pertumbuhan signifikan tetap menjadi perhatian investor di pasar modal.